Skip to main content

3 Sikap Menjengkelkan Penghuni Kosan Saat Menggunakan Fasilitas Bersama

(Gambar: https://www.hairiyanti.com/)

Keputusan untuk berkuliah di luar kota membuat saya harus meninggalkan kehidupan nyaman dan tentram di rumah. Selama hampir 4 tahun hidup di Kota Reyog, saya memilih untuk tinggal di sebuah kosan. Keputusan ini, tentu saja didasari oleh kepribadian saya yang introvert. Pasalnya, saya selalu butuh waktu sendirian setelah seharian melakukan rutinitas sosial.


Kosan yang saya tempati sebenarnya biasa-biasa saja. Bukan tipe yang murah banget, tapi nggak masuk jenis kosan yang eksklusif juga. Hanya saja, kamar mandinya sudah ada di dalam tiap kamar. Fasilitas yang sangat penting menurut saya, terutama bagi kaum hawa. Dan, itu memang yang jadi pertimbangan utama saya saat memilih ngekos di sini. 


Selain kamar mandi, hal yang sangat saya pertimbangkan saat dulu memilih kosan adalah ketersediaan tempat memasak atau dapur. Sebab, ada beberapa kos yang tidak menyediakan dapur atau bahkan memang melarang penghuninya untuk memasak. Nah, untungnya, kosan saya juga menyediakan fasilitas dapur dan kulkas. Yah, meskipun penggunaannya harus sharing dengan penghuni kamar lain.


Sebenarnya, saya tidak punya masalah besar dengan keharusan untuk sharing fasilitas kosan. Hanya saja, kok ya ada saja penghuni lain yang tidak sadar dengan konsep “sharing” ini. Sehingga, mereka kerap menggunakan fasilitas-fasilitas umum kosan dengan seenaknya sendiri, bagaikan milik pribadi. Tidak jarang, saya pun jadi jengkel dengan sikap mereka. 

Berikut 3 sikap menjengkelkan penghuni kosan yang pernah saya temui saat menggunakan fasilitas bersama.


#1 Nggak mau cuci alat masak bersama

Kos saya ini terhitung baik hati, lho. Soalnya, banyak alat masak yang sudah tersedia sejak awal dan boleh digunakan oleh semua penghuni kosan. Jadi, tidak perlu repot-repot beli banyak alat masak dan uang saku pun bisa dialokasikan ke hal lain yang lebih penting. Sayangnya, nggak semua orang bertanggung jawab ketika menggunakannya.


Namanya alat bersama, sudah sepatutnya digunakan dengan memperhatikan kenyamanan bersama pula, kan? Nah, yang sering saya temui di kosan justru sebaliknya. Berkali-kali, sebuah wajan nangkring di atas kompor dalam keadaan kotor. Apa sesulit itu sih nyuci wajan setelah selesai masak? Masa iya, tiap kali orang lain mau masak, harus nyuci alat kotor yang bahkan dia nggak tahu siapa yang pakai. Menyebalkan.


#2 Menumpuk alat makan kotor di wastafel

Masih seputar kemalasan orang dalam mencuci, kelakuan kedua ini juga sama menjengkelkannya. Ada beberapa orang yang memang semalas itu sampai meninggalkan piring-piring kotor mereka begitu saja di wastafel. Padahal, seperti yang kita tahu, itu adalah fasilitas bersama. Kalau wastafel penuh, orang lain kan jadi kesusahan untuk mencuci piringnya. Gitu aja kok nggak mikir. Hmmm.


Bahkan, saya pernah menemui dimana ada orang yang meninggalkan piring kotor selama seminggu lamanya di wastafel. Benar-benar menjijikkan. Saking kesalnya, saya sampai meninggalkan notes di dekat wastafel. Dengan harapan, tiap orang yang membacanya sadar dan segera mencuci alat-alat makan kotor milik mereka. Tapi, tentu saja, upaya itu tidak berdampak banyak. Di lain hari, masih saja saya temui alat-alat makan yang ditumpuk dalam keadaan kotor selama berhari-hari.


#3 Melupakan makanan sisa di kulkas

Selama ngekos sendirian, beberapa kali saya memang menyisakan makanan. Kalau sudah begini, biasanya saya jadi dilema. Dimakan sendirian sudah tidak memungkinan, kalau dibuang juga sayang. Akhirnya, menyimpan sisa makanan di kulkas jadi jurus jitu. Saya yakin, banyak orang ngekos lain yang juga melakukan hal serupa. 


Saya sendiri selalu mengusahakan tiap makanan yang disimpan di kulkas tertutup rapat dalam box container. Tapi, tidak semua orang melakukan hal yang sama dengan saya. Banyak penghuni kosan yang dengan gampangnya menyimpan makanan-makanan sisa mereka di kulkas tanpa penutup rapat. Sialnya, mereka juga kerap melupakan makanan-makanan tersebut. Alhasil, saat akhirnya makanan sisa tersebut benar-benar rusak dan basi, ia turut merusak makanan lain di sekelilingnya. Sebagai tambahan, tindakan tersebut juga membuat kulkas jadi super kotor dan menghasilkan bau tidak sedap tiap kali dibuka. Mau marah, tapi marah ke siapa?


Makanya, lewat artikel ini, saya berharap agar semua anak kos tidak turut melakukan tindakan-tindakan menjengkelkan di atas. Kalau pun ternyata Anda salah satu pelaku, cepatlah bertobat. Sudah waktunya kalian sadar bahwa meskipun menjalani hidup masing-masing, bukan berarti Anda bisa bersikap seenaknya. Pikirkan orang lain yang juga hidup berdampingan dengan Anda di kosan. Walaupun jika kalian tidak pernah mengenalnya. Lagian, apa sih untungnya bersikap jorok dan menjengkelkan seperti itu?


Comments

Popular posts from this blog

Angin Musim, Novel Unik dengan Perspektif Kucing

  ( Gambar: https://perpustakaan.jakarta.go.id/ ) Barangkali, kadar suka saya terhadap kucing memang sudah mencapai level di atas rata-rata. Sampai-sampai, saat beberapa waktu lalu ditawari untuk membeli satu buku baru, saya memilih sebuah buku dengan gambar kucing oranye di sampulnya. Beruntung, setelah riset kecil-kecilan, buku tersebut benar menceritakan soal hewan menggemaskan yang kerap berkeliaran di sekitar kita. Buku itu berjudul Angin Musim . Ditulis oleh Mahbub Djunaidi, yang merupakan penulis tersohor pula ternyata. Saya tidak tahu pasti, apakah beliau juga mencintai kucing sebanyak saya sehingga mampu menuliskannya dengan apik dalam sebuah buku. Yang jelas, saya membaca buku ini dengan nikmat. Apalagi, ada satu hal yang membuat buku ini punya keunikan sendiri. Wah, apa ya keunikannya? Yuk, baca artikel ini hingga selesai. Jika dalam beberapa cerita, kucing hanya muncul sebagai hewan peliharaan dengan peran figuran, maka lain dalam novel Angin Musim ini. Tokoh ...

Pengalaman Berkendara di Jalur Ponorogo-Pacitan: Menyenangkan juga Beresiko

(Gambar: https://terpaksabikinwebsite.files.wordpress.com) Akhirnya, bulan Ramadhan datang juga. Dua tahun terakhir, saya menghabiskan banyak waktu Ramadhan di perantauan. Pengalaman berharga yang, jujur, sedikit menyebalkan karena harus menjalani rutinitas bulan suci seorang diri. Meski begitu, saya senang bisa kembali menemui Ramadhan tahun ini. Lebih senang lagi karena saya punya waktu yang cukup untuk menyambut awal puasa bersama keluarga dengan pulang ke Pacitan. Perjalanan menuju ke Pacitan bisa ditempuh lewat beberapa jalur, yakni melalui Wonogiri, Trenggalek via Jalur Lintas Selatan (JLS), Yogyakarta, dan Ponorogo. Di antara jalur tersebut, saya sudah sangat akrab dengan lika-liku jalur Ponorogo. Sudah ratusan kali saya lewat jalur ini sejak berkuliah di Ponorogo 2019 silam. Selama itu, saya selalu mengendarai motor sendiri. Selama itu pula, saya merasakan berbagai pengalaman berkendara di jalur ini. Jalan naik turun dan berkelok Jika kalian pikir Pacitan dengan puluhan destina...

3 Tips LDR dari Novel Yang Fana Adalah Waktu

Gambar: ebooks.gramedia.com Punya hubungan jarak jauh tentu terasa cukup struggling . Apalagi, jika dalam jangka waktu yang lama. Ada saja hal kecil yang jadi layak diributkan. Misalnya, soal perbedaan waktu dan kesibukan. Meski demikian, bukan berarti hubungan seperti ini tidak mungkin bertahan, lho, ya. Semua selalu bergantung pada komitmen orang yang menjalaninya. Satu kisah keberhasilan hubungan jarak jauh bisa kita intip lewat novel Yang Fana Adalah Waktu milik Sapardi Djoko Damono. Eyang Sapardi memang sudah masyhur namanya. Meski telah tiada, karya beliau tetap abadi dan jadi konsumsi para pembaca. Terlepas dari itu, Yang Fana Adalah Waktu adalah novel pertama milik beliau yang rampung saya baca. Meski demikian, jujur, saya amat terkesan dan mencatat banyak hal dari novel ini. Bisa saya katakan bahwa, selain untuk hiburan, buku ini cocok untuk dijadikan panduan bagi para pejuang hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR). Jadi, buku ini menceritakan kisah sepasa...