Skip to main content

Kesalahan Wawancara

 

(Foto: hot.liputan6.com)

Memantau sosial media seringkali jadi cara untuk refreshing di era serba digital ini. Apalagi, ditambah dengan arus informasi di media sosial yang sangat cepat—meski tak selalu akurat. Selain menyenangkan, tak jarang kita mendapat informasi yang menarik saat sedang bermain sosial media. Jika menilik jajaran sosial media di hari ini, kita punya banyak pilihan untuk menghabiskan waktu scroll, sebut saja Facebook, Instagram, Tiktok, YouTube dan Twitter.

Bicara soal Twitter, ada fitur menarik yang sejauh ini belum penulis temui di banyak platform sosial media lain, yakni fitur trending. Ya, bagi orang yang selalu ingin tahu kondisi terkini, tentu saja fitur trending menjelma sebagai penyelamat untuk memenuhi hasrat ingin tahu mereka yang tinggi. Fitur trending ini umumnya disesuaikan dengan wilayah pengguna. Misalnya, pengguna yang tinggal di Indonesia, maka trending yang muncul adalah trending topic Indonesia.

Siang ini, saat sedang gabut rebahan, penulis menemukan trending yang cukup menarik untuk diklik lebih lanjut; #kesalahanwawancara. Sebab sudah beberapa tahun nyemplung di dunia pers mahasiswa, istilah-istilah selingkup jurnalistik kadang membuat penulis penasaran. Di bayangan saya, akan ada beberapa tokoh jurnalis yang nge-tweet perihal kesalahan ketika melakukan wawancara yang bisa saya catat sebagai pelajaran. Ternyata hasilnya? Zonk, kawan! Hashtag tersebut ramai diperbincangkan karena guyonan Jek (@jek) soal wawancara kerja. Wah, saya merasa di-prank ekspektasi saya sendiri!

Meskipun demikian, tidak apa-apa. Setidaknya, guyonan tersebut menjadi sarana refreshing banyak orang (soalnya sampai trending Indonesia, hehe)—walaupun diantara orang-orang tersebut tidak ada saya sebagai salah satu penikmatnya. Nah, dari pada berlarut kecewa, bagaimana jika kita ulas sedikit #kesalahanwawancara berdasarkan pengalaman dan cerita yang saya dengar selama ikut pers mahasiswa (persma)?

Sebagai persma, tentu kami juga melakukan kerja-kerja jurnalistik seperti liputan, mengolah data, menulis berita dan mempublikasikannya. Data utama sebagai bahan tulisan umumnya kami dapatkan melalui proses wawancara. Namun, karena kebanyakan dari kami memang berangkat dari siswa SMA yang enggak paham-paham banget soal teknik meliput ataupun wawancara, kesalahan selama proses penggalian data sangat mungkin terjadi.

Pertama, tidak memahami topik yang dibawa. Persma memang datang kepada narasumber untuk bertanya, tapi bukan berarti berangkat dengan kepala kosong. Para persma hendaknya sudah memahami betul perihal topik yang mereka bawa. Bahkan, akan lebih baik jika mereka juga menguasai informasi-informasi lain yang mendukungnya. Misal, saat meliput mengenai alokasi dana UKT, sebaiknya kita sudah memahami bagaimana alur penggunaan dananya dan aturan yang mengaturnya. Jangan sampai, justru kita yang akhirnya ditanya-tanya narasumber karena tidak tahu apa-apa.

Kedua, merasa tidak setara dengan narasumber. Nah, kesalahan ini sangat umum terjadi karena masing-masing persma memiliki latar belakang dan karakter yang berbeda. Ada yang takut-takut untuk bertanya pada narasumber dan ada pula yang justru terlalu berani dan merasa superior dengan titel persmanya. Kedua sikap ini kurang ideal, mengingat kita juga membutuhkan informasi ataupun konfirmasi dari para narasumber. Saat kita terlalu takut, maka informasi yang didapatkan akan sangat terbatas. Bisa saja kita juga tidak mendapatkan detail dari pertanyaan yang kita ajukan. Di sisi lain, terlalu berani pun bisa jadi bumerang bagi diri persma itu sendiri. Seperti respon yang kurang baik dari narasumber karena mereka tidak nyaman diwawancarai ataupun penolakan dalam melakukan wawancara di kesempatan selanjutnya. Padahal, jika melihat persma yang kebanyakan aktivitasnya meliput isu-isu kampus, mereka akan bertemu dengan orang yang itu-itu saja.

Lalu, sebaiknya kita bersikap seperti apa? Bersikaplah setara dengan narasumber. Meskipun mereka adalah orang dengan jabatan lebih tinggi misal, jika memang ada yang masih kurang jelas, tanyakan dengan sopan. Buat narasumber merasa nyaman sehingga informasi yang didapatkan pun akan maksimal.

Ketiga, jangan hanya mengacu pada daftar pertanyaan. Daftar pertanyaan memang menjadi salah satu hal yang penting dalam melakukan wawancara. Dengan daftar pertanyaan, seorang jurnalis dapat bertanya dengan lebih terstruktur. Meskipun demikian, jangan sampai selama wawancara kita hanya mengandalkan daftar pertanyaan saja. Ingat, selain kita bertanya, kita juga menggali. Jadi, selama masih timbul pertanyaan dari jawaban narasumber, gali lagi, tanyakan lagi. Idealnya, penggalian data harus dilakukan hingga tidak menimbulkan pertanyaan lagi. Jadi, jangan ragu untuk mengembangkan daftar pertanyaanmu selama wawancara.

Proses belajar memang tidak akan lepas dari kesalahan dan kegagalan, begitupun dalam mempelajari kesalahan. Penulis pun bukan seorang persma yang ideal dan tidak pernah melakukan #kesalahanwawancara. Meskipun demikian, pengetahuan akan mengantarkan kita pada upaya meminimalisir disamping pengalaman yang dijadikan pembelajaran. Salam pers mahasiswa!

Comments

Popular posts from this blog

Angin Musim, Novel Unik dengan Perspektif Kucing

  ( Gambar: https://perpustakaan.jakarta.go.id/ ) Barangkali, kadar suka saya terhadap kucing memang sudah mencapai level di atas rata-rata. Sampai-sampai, saat beberapa waktu lalu ditawari untuk membeli satu buku baru, saya memilih sebuah buku dengan gambar kucing oranye di sampulnya. Beruntung, setelah riset kecil-kecilan, buku tersebut benar menceritakan soal hewan menggemaskan yang kerap berkeliaran di sekitar kita. Buku itu berjudul Angin Musim . Ditulis oleh Mahbub Djunaidi, yang merupakan penulis tersohor pula ternyata. Saya tidak tahu pasti, apakah beliau juga mencintai kucing sebanyak saya sehingga mampu menuliskannya dengan apik dalam sebuah buku. Yang jelas, saya membaca buku ini dengan nikmat. Apalagi, ada satu hal yang membuat buku ini punya keunikan sendiri. Wah, apa ya keunikannya? Yuk, baca artikel ini hingga selesai. Jika dalam beberapa cerita, kucing hanya muncul sebagai hewan peliharaan dengan peran figuran, maka lain dalam novel Angin Musim ini. Tokoh ...

Pengalaman Berkendara di Jalur Ponorogo-Pacitan: Menyenangkan juga Beresiko

(Gambar: https://terpaksabikinwebsite.files.wordpress.com) Akhirnya, bulan Ramadhan datang juga. Dua tahun terakhir, saya menghabiskan banyak waktu Ramadhan di perantauan. Pengalaman berharga yang, jujur, sedikit menyebalkan karena harus menjalani rutinitas bulan suci seorang diri. Meski begitu, saya senang bisa kembali menemui Ramadhan tahun ini. Lebih senang lagi karena saya punya waktu yang cukup untuk menyambut awal puasa bersama keluarga dengan pulang ke Pacitan. Perjalanan menuju ke Pacitan bisa ditempuh lewat beberapa jalur, yakni melalui Wonogiri, Trenggalek via Jalur Lintas Selatan (JLS), Yogyakarta, dan Ponorogo. Di antara jalur tersebut, saya sudah sangat akrab dengan lika-liku jalur Ponorogo. Sudah ratusan kali saya lewat jalur ini sejak berkuliah di Ponorogo 2019 silam. Selama itu, saya selalu mengendarai motor sendiri. Selama itu pula, saya merasakan berbagai pengalaman berkendara di jalur ini. Jalan naik turun dan berkelok Jika kalian pikir Pacitan dengan puluhan destina...

3 Tips LDR dari Novel Yang Fana Adalah Waktu

Gambar: ebooks.gramedia.com Punya hubungan jarak jauh tentu terasa cukup struggling . Apalagi, jika dalam jangka waktu yang lama. Ada saja hal kecil yang jadi layak diributkan. Misalnya, soal perbedaan waktu dan kesibukan. Meski demikian, bukan berarti hubungan seperti ini tidak mungkin bertahan, lho, ya. Semua selalu bergantung pada komitmen orang yang menjalaninya. Satu kisah keberhasilan hubungan jarak jauh bisa kita intip lewat novel Yang Fana Adalah Waktu milik Sapardi Djoko Damono. Eyang Sapardi memang sudah masyhur namanya. Meski telah tiada, karya beliau tetap abadi dan jadi konsumsi para pembaca. Terlepas dari itu, Yang Fana Adalah Waktu adalah novel pertama milik beliau yang rampung saya baca. Meski demikian, jujur, saya amat terkesan dan mencatat banyak hal dari novel ini. Bisa saya katakan bahwa, selain untuk hiburan, buku ini cocok untuk dijadikan panduan bagi para pejuang hubungan jarak jauh atau Long Distance Relationship (LDR). Jadi, buku ini menceritakan kisah sepasa...