Memantau sosial media seringkali jadi cara untuk refreshing di era serba digital ini. Apalagi, ditambah dengan arus informasi di media sosial yang sangat cepat—meski tak selalu akurat. Selain menyenangkan, tak jarang kita mendapat informasi yang menarik saat sedang bermain sosial media. Jika menilik jajaran sosial media di hari ini, kita punya banyak pilihan untuk menghabiskan waktu scroll, sebut saja Facebook, Instagram, Tiktok, YouTube dan Twitter.
Bicara soal Twitter, ada fitur
menarik yang sejauh ini belum penulis temui di banyak platform sosial media
lain, yakni fitur trending. Ya, bagi
orang yang selalu ingin tahu kondisi terkini, tentu saja fitur trending menjelma sebagai penyelamat
untuk memenuhi hasrat ingin tahu mereka yang tinggi. Fitur trending ini umumnya disesuaikan dengan wilayah pengguna. Misalnya,
pengguna yang tinggal di Indonesia, maka trending yang muncul adalah trending topic Indonesia.
Siang ini, saat sedang gabut rebahan, penulis menemukan trending yang cukup menarik untuk diklik
lebih lanjut; #kesalahanwawancara. Sebab sudah beberapa tahun nyemplung di dunia pers mahasiswa,
istilah-istilah selingkup jurnalistik kadang membuat penulis penasaran. Di
bayangan saya, akan ada beberapa tokoh jurnalis yang nge-tweet perihal kesalahan ketika melakukan wawancara yang bisa
saya catat sebagai pelajaran. Ternyata hasilnya? Zonk, kawan! Hashtag
tersebut ramai diperbincangkan karena guyonan Jek (@jek) soal wawancara kerja.
Wah, saya merasa di-prank ekspektasi
saya sendiri!
Meskipun demikian, tidak apa-apa.
Setidaknya, guyonan tersebut menjadi sarana refreshing
banyak orang (soalnya sampai trending
Indonesia, hehe)—walaupun diantara orang-orang tersebut tidak ada saya sebagai
salah satu penikmatnya. Nah, dari pada berlarut kecewa, bagaimana jika kita
ulas sedikit #kesalahanwawancara berdasarkan pengalaman dan cerita yang saya
dengar selama ikut pers mahasiswa (persma)?
Sebagai persma, tentu kami juga
melakukan kerja-kerja jurnalistik seperti liputan, mengolah data, menulis
berita dan mempublikasikannya. Data utama sebagai bahan tulisan umumnya kami
dapatkan melalui proses wawancara. Namun, karena kebanyakan dari kami memang
berangkat dari siswa SMA yang enggak
paham-paham banget soal teknik
meliput ataupun wawancara, kesalahan selama proses penggalian data sangat mungkin
terjadi.
Pertama, tidak memahami topik yang dibawa. Persma
memang datang kepada narasumber untuk bertanya, tapi bukan berarti berangkat
dengan kepala kosong. Para persma hendaknya sudah memahami betul perihal topik
yang mereka bawa. Bahkan, akan lebih baik jika mereka juga menguasai
informasi-informasi lain yang mendukungnya. Misal, saat meliput mengenai
alokasi dana UKT, sebaiknya kita sudah memahami bagaimana alur penggunaan
dananya dan aturan yang mengaturnya. Jangan sampai, justru kita yang akhirnya
ditanya-tanya narasumber karena tidak tahu apa-apa.
Kedua, merasa tidak setara dengan narasumber. Nah,
kesalahan ini sangat umum terjadi karena masing-masing persma memiliki latar
belakang dan karakter yang berbeda. Ada yang takut-takut untuk bertanya pada
narasumber dan ada pula yang justru terlalu berani dan merasa superior dengan
titel persmanya. Kedua sikap ini kurang ideal, mengingat kita juga membutuhkan
informasi ataupun konfirmasi dari para narasumber. Saat kita terlalu takut,
maka informasi yang didapatkan akan sangat terbatas. Bisa saja kita juga tidak
mendapatkan detail dari pertanyaan yang kita ajukan. Di sisi lain, terlalu
berani pun bisa jadi bumerang bagi diri persma itu sendiri. Seperti respon yang
kurang baik dari narasumber karena mereka tidak nyaman diwawancarai ataupun
penolakan dalam melakukan wawancara di kesempatan selanjutnya. Padahal, jika
melihat persma yang kebanyakan aktivitasnya meliput isu-isu kampus, mereka akan
bertemu dengan orang yang itu-itu saja.
Lalu, sebaiknya kita bersikap
seperti apa? Bersikaplah setara dengan narasumber. Meskipun mereka adalah orang
dengan jabatan lebih tinggi misal, jika memang ada yang masih kurang jelas,
tanyakan dengan sopan. Buat narasumber merasa nyaman sehingga informasi yang
didapatkan pun akan maksimal.
Ketiga, jangan hanya mengacu pada daftar pertanyaan.
Daftar pertanyaan memang menjadi salah satu hal yang penting dalam melakukan
wawancara. Dengan daftar pertanyaan, seorang jurnalis dapat bertanya dengan
lebih terstruktur. Meskipun demikian, jangan sampai selama wawancara kita hanya
mengandalkan daftar pertanyaan saja. Ingat, selain kita bertanya, kita juga
menggali. Jadi, selama masih timbul pertanyaan dari jawaban narasumber, gali
lagi, tanyakan lagi. Idealnya, penggalian data harus dilakukan hingga tidak
menimbulkan pertanyaan lagi. Jadi, jangan ragu untuk mengembangkan daftar
pertanyaanmu selama wawancara.
Proses belajar memang tidak akan
lepas dari kesalahan dan kegagalan, begitupun dalam mempelajari kesalahan.
Penulis pun bukan seorang persma yang ideal dan tidak pernah melakukan
#kesalahanwawancara. Meskipun demikian, pengetahuan akan mengantarkan kita pada
upaya meminimalisir disamping pengalaman yang dijadikan pembelajaran. Salam
pers mahasiswa!

Comments
Post a Comment